Hampir sepanjang hidupnya selalu berpakaian
seperti seorang serdadu.Isterinya adalah puteri dari gubernur kota tersebut.
Fatimah yang juga menjadi salah saorang sufi wanita. Sebelum menikah Fatimah
mengutus seseorang untuk menghadap Ahmad dan memberikan surat yang dibuatnya,
mintalah aku dari ayahku demikian salah satu surat tersebut.
Tetapi ahmad tidak menanggapinya karena itulah
fatimah kemudian kembali mengirim utusan untuk kedua kalinya. Utusan itupun
memberikan surat yang di buat fatimah kepada Ahmad yang bertuliskan; Ahmad
tadinya aku pikir engkau lebih jantan dari ini
Jadilah pemandu jangan jadi penyamun Ahmad pun
mengirim utusan untuk menemui ayah fatimah guna meminangnya ayah fatimah demi
mencari kerberkahan Allah swt.
Dengan ikhlas menyerahkan fatimah kepada ahmad.
Fatimah pun memberikan salam perpisahan kepada keduniawan dan menemukan
kediaman yang tenang dalam kesunyian bersama Ahmad. Pada suatu hari ahmad
hendak pergi mengunjungi Abu Yasid Al Bustomi salah satu sufi yang terkenal
saat itu dan Fatimah pun menyertainya ketika sampai di tempat kediaman Abu
Yasid, Fatimah membuka hijadnya dan berbincang- bincang dengan Abu Yasid. Ahmad
terkejut melihat tingkah laku isterinya dan diliputi oleh rasa cemburu lalu
dalam suatu kesempatan berdua saja diapun bertanya kepada Fatimah; Fatimah apa
yang kau lakukan bersama Abu Yasid.
Engkau akrab dengan diri lahirku sedangkan Abu
Yasid akrab dengan diri batinku engkau memberikan hasratku sedang dia membawaku
kepada Allah’’ jawab Fatimah. Dikisahkan pula bahwa suatu ketika Abu Yasid
bercengkerama dengan Fatimah hingga suatu ketika tanpa sengaja matanya
memandang tangan Fatimah dan melihat ke dua tangannya di penuhi dengan pacar
(heena- pen). Fatimah mengapa engkau memakai pacar? Tanya Abu yasid
“Abu Yazid, selama ini engkau tidak pernah
memandangku dan pacar yang aku pakai. Sebelum ini aku merasa tenteram
bersamamu. Namun setelah matamu
memandang tanganku, terlarang bagiku untuk menemanimu.”ucap Fatimah
Setelah itu , Fatimah pun tidak pernah menemui
Abu Yazib tanpa memakai hijab. Abu Yazib setelah beberapa lama berada di
tempatnya, untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian, Ahmad dan Fatimah
melanjutkan perjalanan menuju kota Nistabur.
Ketika sampai di kota tersebut, salah seorang
sufi bernama Yahya Ibnu Mu’adz kebetulan juga datang. Dan Ahmad ingin
mengadakan pesta untuk Yahya. Ahmad membicarakan hal tu kepada istrinya.
“Apa yang kita butuhkan untuk pesta ini?”Tanya
Ahmad kepada istrinya, Fatimah
“Ada lembu, domba dan pernik-pernik seperti
lilin dan minyak mawar. Selain itu, kita membutuhkan daging keledai,”Jawab
Fatimah
Mengenai Fatimah, Abu Yazid mengatakan, ‘’jika seorang ingin melihat
lelaki sejati bersembunyi dalam pakaian wanita suruh dia melihat Fatimah.’’
Suatu
saat, seorang pencuri masuk ke tempat kediaman Ahmad. Pencuri itu, walau telah
ke sana kemari mencari barang- barang yang berharga, namun dia tidak
mendapatkan hasil apa- apa . Saat hendak meninggalkan rumah itu, si pencuri pun
di panggil oleh Ahmad.
Wahai anak muda,
ambillah ember itu dan ciduklah air dari sumur. Berwudhulah dan di dirikanlah
sholat. Jika aku mendapatkan sesuatu, aku akan memberikan ke padamu agar engkau
tidak meninggalkan rumahku dengan tangan kosong.”
Si pencuri terkejut dan ketakutan karena tak
menyangka si tuan rumah melihat seluruh aksinya. Namun; dengan rasa takut dia
segera melakukan apa yang di perintahkan Ahmad.
Ketika hari telah terang, datang seorang yang
terhormat dan memberikan uang sejumlah seratus dinar kepada Ahmad . Setelah
itu, si tamu pun meninggalkan Ahmad dan pencuri tersebut.
“Ambillah uang itu sebagai imbalan karena
engkau telah melewatkan malam ini dengan mendirikan sholat.”Ucap Ahmad kepada
pencuri itu.
Tubuh pencuri itu gemetar dan dia pun larut
dalam tangis.”Aku telah salah jalan. Baru semalam aku bekerja untuk Allah dan
Dia telah membalasku demikian besar,”ucapnya sambil terus menangis.
Akhirnya pencuri itu bertobat dan menolak
pemberian uang dari Ahmad dan dia pun menjadi salah satu murid Ahmad.
Dikisahkan, pada suatu kesempatan, ketika
menjadi musafir Ahmad menghadiri majelis di pondok sufi dengan mengenakan
pakaian yang sangat buruk. Dalam acara sufi tersebut, Ahmad benar- benar
mengabdikan diri sepenuhnya untuk melakukan tugas-tugas spiritual. Tetapi diam-
diam para sufi meragukanya dan mereka berkata kepada syekh yang memimpin
mejelis,”Tempatnya bukan di sini”.
Kemudian Ahmad pergi ke sumur dan embernya
jatuh ke dalam sumur sehingga dia mendapat makian dan celaan dari para sufi
yang lain. Ahmad pun menemui kepada syekh para sufi tersebut
”Kumohon bacalah surat Al – Fatihah agar ember
itu dapat ke luar dari dalam sumur tersebut,”pinta Ahmad kepada syekh di pondok
sufi itu.
“Permohonan macam apa itu?”Tukas syekh terheran
–heran.
“Jika anda tidak berkenan, maka izikanlah aku
yang akan membacanya! pinta Ahmad. Syekh itupun mengizinkannya.
Ketika Ahmad membaca surat Al- Fatihah; maka
setelah akhir surat, ember itu terangkat dari dalam sumur dan kembali pada
posisi semula.Ketika melihat hal tersebut, sang Syekh melepaskan sorbannya dan
bertanya kepada Ahmad,” Siapa engkau sebenarnya? Lesungku hanya berisi sekam
bila di bandingkan dengan bulir padimu.”
“Beritahu pada sahabatmu untuk tidak memandang
rendah para musafir;”balas Ahmad.
“Suatu ketika, seseorang lelaki datang menemui
Ahmad dan berkata,”Aku sakit dan miskin.Bimbinglah aku agar aku dapat ke luar
dari kesulitan ini;’’
“Potonglah kertas menjadi beberapa bagian dan
tuliskan semua pekerjaan yang ada dan setelah itu masukkanlah ke dalam kantong
lalu berikanlah padaku,”balas Ahmad.
Kemudian orang tersebut melakukan apa yang
diperintahkan oleh Ahmad. Lalu tangan Ahmad masuk ke dalam kantong dan
mengambil secarik kertas dan membacanya didepan orang itu.
“Engkau harus menjadi pencuri. Karena pada
kertas ini tertulis pencuri.”ucap Ahmad
Orang tersebut terheran-heran, tapi dia tetap
menjalankan petunjuk yang diberikan oleh Ahmad. Lalu dia menemui sekawanan
penyamun. Dan menyatakan niat untuk bergabung dengan para penyamun tersebut.
Hanya ada satu aturan untukmu, yaitu engkau
harus menuruti perintah kami,”ucap kepala para penyamun.
“Aku akan melakukan apapun yang
diperintahkan!”Jawab si lelaki
Lelaki itu tinggal beberapa hari dengan
kelompok penyamun tersebut. Suatu ketika, lewatlah rombongan khalifah di tempat
mereka tinggal. Oleh kelompok penyamun tersebut, mereka disergap dan
menyerahkan kepala khalifah kepada lelaki tersebut. Kepala khalifah itu seorang
saudagar yang kaya.
“Goroklah leher saudagar ini.”pinta kelompok
penyamun kepala lelaki tersebut.
Lelaki itu ragu untuk
melakukannya.”Jika engkau tidak mau membunuh orang ini pergilah cari pekerjaan
yang lain.”ucap kepala penyamun.
“Aku memang menjalankan perintah. Tapi bukan
perintah kalian, melainkan perintah Allah,”balas lelaki itu.
Lalu dia menghunus pedangnya dan menyerang
kepala penyamun sehingga terjadi perang tanding antara keduanya. Sedang yang
lain hanya menyaksikan saja. Sementara saudagar kaya raya itu berhasil kabur.
Akhirnya kepala penyamun tewas ditangan lelaki tersebut sehingga kelompoknya
menjadi kecut dan melarikan diri dari tempat tersebut.