Sabtu, 14 Juli 2012

Sufi Ahmad Ibnu Khodrunya


Hampir sepanjang hidupnya selalu berpakaian seperti seorang serdadu.Isterinya adalah puteri dari gubernur kota tersebut. Fatimah yang juga menjadi salah saorang sufi wanita. Sebelum menikah Fatimah mengutus seseorang untuk menghadap Ahmad dan memberikan surat yang dibuatnya, mintalah aku dari ayahku demikian salah satu surat tersebut.
Tetapi ahmad tidak menanggapinya karena itulah fatimah kemudian kembali mengirim utusan untuk kedua kalinya. Utusan itupun memberikan surat yang di buat fatimah kepada Ahmad yang bertuliskan; Ahmad tadinya aku pikir engkau lebih jantan dari ini
Jadilah pemandu jangan jadi penyamun Ahmad pun mengirim utusan untuk menemui ayah fatimah guna meminangnya ayah fatimah demi mencari kerberkahan Allah swt.
Dengan ikhlas menyerahkan fatimah kepada ahmad. Fatimah pun memberikan salam perpisahan kepada keduniawan dan menemukan kediaman yang tenang dalam kesunyian bersama Ahmad. Pada suatu hari ahmad hendak pergi mengunjungi Abu Yasid Al Bustomi salah satu sufi yang terkenal saat itu dan Fatimah pun menyertainya ketika sampai di tempat kediaman Abu Yasid, Fatimah membuka hijadnya dan berbincang- bincang dengan Abu Yasid. Ahmad terkejut melihat tingkah laku isterinya dan diliputi oleh rasa cemburu lalu dalam suatu kesempatan berdua saja diapun bertanya kepada Fatimah; Fatimah apa yang kau lakukan bersama Abu Yasid.
Engkau akrab dengan diri lahirku sedangkan Abu Yasid akrab dengan diri batinku engkau memberikan hasratku sedang dia membawaku kepada Allah’’ jawab Fatimah. Dikisahkan pula bahwa suatu ketika Abu Yasid bercengkerama dengan Fatimah hingga suatu ketika tanpa sengaja matanya memandang tangan Fatimah dan melihat ke dua tangannya di penuhi dengan pacar (heena- pen). Fatimah mengapa engkau memakai pacar? Tanya Abu yasid
“Abu Yazid, selama ini engkau tidak pernah memandangku dan pacar yang aku pakai. Sebelum ini aku merasa tenteram bersamamu. Namun  setelah matamu memandang tanganku, terlarang bagiku untuk menemanimu.”ucap Fatimah
Setelah itu , Fatimah pun tidak pernah menemui Abu Yazib tanpa memakai hijab. Abu Yazib setelah beberapa lama berada di tempatnya, untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian, Ahmad dan Fatimah melanjutkan perjalanan menuju kota Nistabur.
Ketika sampai di kota tersebut, salah seorang sufi bernama Yahya Ibnu Mu’adz kebetulan juga datang. Dan Ahmad ingin mengadakan pesta untuk Yahya. Ahmad membicarakan hal tu kepada istrinya.
“Apa yang kita butuhkan untuk pesta ini?”Tanya Ahmad kepada istrinya, Fatimah
“Ada lembu, domba dan pernik-pernik seperti lilin dan minyak mawar. Selain itu, kita membutuhkan daging keledai,”Jawab Fatimah
  Mengenai Fatimah, Abu Yazid mengatakan, ‘’jika seorang ingin melihat lelaki sejati bersembunyi dalam pakaian wanita suruh dia melihat Fatimah.’’
   Suatu saat, seorang pencuri masuk ke tempat kediaman Ahmad. Pencuri itu, walau telah ke sana kemari mencari barang- barang yang berharga, namun dia tidak mendapatkan hasil apa- apa . Saat hendak meninggalkan rumah itu, si pencuri pun di panggil oleh Ahmad.
            Wahai anak muda, ambillah ember itu dan ciduklah air dari sumur. Berwudhulah dan di dirikanlah sholat. Jika aku mendapatkan sesuatu, aku akan memberikan ke padamu agar engkau tidak meninggalkan rumahku dengan tangan kosong.”
Si pencuri terkejut dan ketakutan karena tak menyangka si tuan rumah melihat seluruh aksinya. Namun; dengan rasa takut dia segera melakukan apa yang di perintahkan Ahmad.
Ketika hari telah terang, datang seorang yang terhormat dan memberikan uang sejumlah seratus dinar kepada Ahmad . Setelah itu, si tamu pun meninggalkan Ahmad dan pencuri tersebut.
“Ambillah uang itu sebagai imbalan karena engkau telah melewatkan malam ini dengan mendirikan sholat.”Ucap Ahmad kepada pencuri itu.
Tubuh pencuri itu gemetar dan dia pun larut dalam tangis.”Aku telah salah jalan. Baru semalam aku bekerja untuk Allah dan Dia telah membalasku demikian besar,”ucapnya sambil terus menangis.
Akhirnya pencuri itu bertobat dan menolak pemberian uang dari Ahmad dan dia pun menjadi salah satu murid Ahmad.
Dikisahkan, pada suatu kesempatan, ketika menjadi musafir Ahmad menghadiri majelis di pondok sufi dengan mengenakan pakaian yang sangat buruk. Dalam acara sufi tersebut, Ahmad benar- benar mengabdikan diri sepenuhnya untuk melakukan tugas-tugas spiritual. Tetapi diam- diam para sufi meragukanya dan mereka berkata kepada syekh yang memimpin mejelis,”Tempatnya bukan di sini”.
Kemudian Ahmad pergi ke sumur dan embernya jatuh ke dalam sumur sehingga dia mendapat makian dan celaan dari para sufi yang lain. Ahmad pun menemui kepada syekh para sufi tersebut
”Kumohon bacalah surat Al – Fatihah agar ember itu dapat ke luar dari dalam sumur tersebut,”pinta Ahmad kepada syekh di pondok sufi itu.
“Permohonan macam apa itu?”Tukas syekh terheran –heran.
“Jika anda tidak berkenan, maka izikanlah aku yang akan membacanya! pinta Ahmad. Syekh itupun mengizinkannya.
Ketika Ahmad membaca surat Al- Fatihah; maka setelah akhir surat, ember itu terangkat dari dalam sumur dan kembali pada posisi semula.Ketika melihat hal tersebut, sang Syekh melepaskan sorbannya dan bertanya kepada Ahmad,” Siapa engkau sebenarnya? Lesungku hanya berisi sekam bila di bandingkan dengan bulir padimu.”
“Beritahu pada sahabatmu untuk tidak memandang rendah para musafir;”balas Ahmad.
“Suatu ketika, seseorang lelaki datang menemui Ahmad dan berkata,”Aku sakit dan miskin.Bimbinglah aku agar aku dapat ke luar dari kesulitan ini;’’
“Potonglah kertas menjadi beberapa bagian dan tuliskan semua pekerjaan yang ada dan setelah itu masukkanlah ke dalam kantong lalu berikanlah padaku,”balas Ahmad.
Kemudian orang tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Ahmad. Lalu tangan Ahmad masuk ke dalam kantong dan mengambil secarik kertas dan membacanya didepan orang itu.
“Engkau harus menjadi pencuri. Karena pada kertas ini tertulis pencuri.”ucap Ahmad
Orang tersebut terheran-heran, tapi dia tetap menjalankan petunjuk yang diberikan oleh Ahmad. Lalu dia menemui sekawanan penyamun. Dan menyatakan niat untuk bergabung dengan para penyamun tersebut.
Hanya ada satu aturan untukmu, yaitu engkau harus menuruti perintah kami,”ucap kepala para penyamun.
“Aku akan melakukan apapun yang diperintahkan!”Jawab si lelaki
Lelaki itu tinggal beberapa hari dengan kelompok penyamun tersebut. Suatu ketika, lewatlah rombongan khalifah di tempat mereka tinggal. Oleh kelompok penyamun tersebut, mereka disergap dan menyerahkan kepala khalifah kepada lelaki tersebut. Kepala khalifah itu seorang saudagar yang kaya.
“Goroklah leher saudagar ini.”pinta kelompok penyamun kepala lelaki tersebut.
            Lelaki itu ragu untuk melakukannya.”Jika engkau tidak mau membunuh orang ini pergilah cari pekerjaan yang lain.”ucap kepala penyamun.
“Aku memang menjalankan perintah. Tapi bukan perintah kalian, melainkan perintah Allah,”balas lelaki itu.
Lalu dia menghunus pedangnya dan menyerang kepala penyamun sehingga terjadi perang tanding antara keduanya. Sedang yang lain hanya menyaksikan saja. Sementara saudagar kaya raya itu berhasil kabur. Akhirnya kepala penyamun tewas ditangan lelaki tersebut sehingga kelompoknya menjadi kecut dan melarikan diri dari tempat tersebut.