Senin, 30 Juli 2012

Analisis Swot Prov. Sultra


Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di jazirah Tenggara pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan diantara 30-60 lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 1200 45 – 1240 30 Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah, di sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi NTT dan laut Flores, sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Teluk Bone.
   Provinsi Sulawesi Tenggara mencakup daratan (jazirah) pulau Sulawesi dan kepulauan, yang memiliki wilayah daratan seluas 38.140 KM2 Ha dan wilayah perairan (laut) diperkirakan seluas 110.000 KM2 Ha, dan jumlah penduduk 2.001.818 jiwa. Secara administratif provinsi sulawesi tenggara terdiri atas 12 wilayah Kabupaten / Kota yaitu : Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Bombana, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Wakatobi, Kota Kendari dan Kota Bau-Bau, Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Buton Utara. 
Luas wilayah untuk masing-masing Kabupaten tersebut adlah sebagai berikut :
*  Kabupaten Buton ± 2.681,22 KM2
*  Kabupaten muna ± 2.745,05 KM2
*  Kabupaten Konawe ± 5.302,86 KM2
Kabupaten konawe selatan ± 5.779,47 KM2
*  Kabupaten Bombana ± 3.391,67 KM2
*  Kabupaten kolaka utara ± 3.001 KM2
*  Kabupaten Wakatobi ± 559.54 KM2
*  Kabupaten Kolaka ± 6.918,33 KM2
*  Kabupaten Konawe utara ± 3.391,67 KM2
*  Kabupaten Buton Utara ± 1.864,91
*  Kota Kendari ± 300,89 KM2
*  Kota Bau-Bau ± 221 KM2S
Perkembangan Provinsi Sulawesi Tenggara dipengaruhi oleh pemekaran daerah dan  Perubahan penggunaan lahan yang pesat dari lahan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Jumlah penduduk dan tenaga kerja yang besar sebagai akibat dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan dengan kualitas sumberdaya manusia yang relatif masih rendah, kondisi lingkungan hidup yang cenderung menurun sehingga sumber daya  alam berupa pertambangan, migas dan kekayaan laut belum tereksploitasi secara optimal.

Dinamika perubahan
1. Kondisi sosial, arus pendatang tenaga asing (profesional) dan investor penduduk asli dan pendatang (pemukim, pekerja dan investor) menunjukkan perubahan yang signifikan.
2. Kondisi ekonomi, sektor primer, sektor sekunder dan tersier, multiplier effect sector sekunder dan tersier, PDRB, perubahan penggunaan  lahan meningkat.
3. Kondisi SDA/ LH, lahan pertanian menjadi lahan pertambangan dan perkebunan, perkantoran, pemukiman. Kebutuhan sumber daya air dan energi meningkat, kualitas lingkungan hidup (cenderung negatif pada built-up area dan sekitarnya)
4. Kondisi pemerintahan/masyarakat, tuntutan layanan semakin kompleks dan intensif governance, peran pemerintah bergeser perhatian pada pelayanan publik dan diharapkan menjadi lembaga yang dapat dipercaya (trusted).
5  
 Analisis SWOT
Kekuatan
1.      Jumlah penduduk dan tenaga kerja yang besar dan potensial.
2.      Lahan yang subur dengan area persawahan beririgasi luas.
3.      Adanya kawasan dan zona pertambangan, perkebunan yang luas.
4.      Adanya visi dan misi daerah yang jelas.
5.      Adanya jaminan keamanan.
6.      Adanya rencana jalan dan jembatan penghubung antar pulau, RTRW dan RTRK.
7.      Adanya potensi dan sumber kekayaan alam berupa pertambangan, migas dan kelautan
Peluang
1.      Otonomi daerah yang luas dan Kekayaan alam melimpah dan belum terolah.
2.      Minat investor yang tinggi, baik asing maupun domestik.
3.      Kawasan perdagangan yang strategis antar negara.
4.      Memiliki pelabuhan dan bandara yang strategis.
5.      Kemudahan akses dengan wilayah lain.
6.      Tumbuhnya kesadaran berdemokrasi.
Kelemahan
1.      SDM yang rendah.
2.      Produktivitas yang belum optimal.
3.      Kemiskinan dan pengangguran.
4.      Kepemilikan lahan pertambangan, pertanian, perkebunan yang semakin sempit.
5.      Prasarana jalan dan irigasi banyak yang rusak.
6.      Kinerja aparatur pemerintah yang semakin menurun.
7.      Semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan yang cenderung menurun.
Ancaman
1.      Krisis multidimensi.
2.      Eforia demokrasi yang cenderung kebablasan .
3.      Persaingan hidup yang semakin ketat.
4.      Perubahan gaya hidup.
5.      Pengaruh teknologi informasi.
6.      Arus migrasi dan urbanisasi serta permasalahannya.

Ditulis oleh : Jamaludin,S.Sos, M.Si
lulusan Kebijakan publik Unnur Bandung
------TERIMA KASIH------