Kendari - Rapat di DPR Propinsi Sulawesi
Tenggara (Sultra) yang membahas tuntutan mahasiswa mengenai anggaran
jalan poros Raha-Lakapera berlangsung brutal.
Hal itu
berawal dari Ketua DPRD Sultra, Rusman Emba yang meminta pihak Dinas
Pekerjaan Umum (PU) dan Bappeda Sultra memberikan kejelasan mengenai
penetapan anggaran perbaikan jalan utama yang menghubungkan Kabupaten
Muna dan Buton tersebut.
Hal tersebut disepakati oleh Anggota
DPRD dari PNBK, Slamet Riyadi. Namun, pada saat memberikan keterangan
dalam rapat tersebut, tiba-tiba Wakil Ketua DPRD Sultra, Sabaruddin
Labamba melakukan interupsi. Dia menilai bahwa pada forum pembahasan
perubahan APBD 2012 itu tidak harus menetapkan anggaran perbaikan jalan,
melainkan cukup membahas mekanisme penetapan sehingga terjadi aduh
mulut diantara keduanya.
Mendengar keributan itu, anggota DPRD
lainnya, Suwandi Andi segera melakukan interupsi, namun tidak dihiraukan.
Ia pun emosi, spontan berdiri dan melemparkan mike yang ada
di hadapannya hingga pecah.
Melihat kejadian itu, membuat emosi
Ketua DPRD Sultra, Rusman Emba memuncak dan secara spontan melempar
gelas dan mike yang ada di depannya,termasuk kursi yang dia duduki. Tak
hanya itu, ia juga membanting meja pimpinan sidang. Keributan pun
meluas. Ada yang teriak-teriak dan melarikan diri, ada pula yang
berusaha melerai keributan di gedung parlemen itu.
Kapolresta
Kendari, AKBP Yuyun Yudhantara, ikut memantau jalannya sidang yang ricuh
itu. Pihak kepolisian berusaha mengeluarkan mahasiswa yang ada di dalam
ruang rapat tersebut dan sempat terjadi aksi saling mendorong antara
mahasiswa dan polisi. Namun hal itu tidak berlangsung lama sehingga
situasi pun aman terkendali.
Sebelum sidang pembahasan APBD
Perubahan ini dimulai, di luar gedung DPRD Sultra sudah terjadi
demonstrasi oleh sekelompok mahasiswa yang menamakan diri GEMPUR Sultra.
Mereka meminta agar perbaikan jalan Raha-Lakapera yang menelan dana
sekitar Rp 25 miliar segera ditetapkan anggarannya pada APBD Perubahan
2012.